Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Upacara Melasti Tradisi Unik Di Bali Untuk Objek Wisata Menarik

 

Setiap tahun menjelang datangnya tahun baru Caka sekitar bulan Maret dan April menurut kalender masehi, bagi umat Hindu yang tinggal di Pulau Bali akan disibukkan dengan adanya beberapa rentetan upacara keagamaan yang dilaksanakan pada tenggang waktu ini, salah satunya adalah upacara melasti, dimana prosesi ini dilaksanakan 3 atau 4 hari sebelum merayakan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Tilem, sasih (bulan) Kesanga.

Upacara Melasti Tradisi Unik Di Bali Untuk Objek Wisata Menarik
Upacara Melasti Tradisi Unik Di Bali Untuk Objek Wisata Menarik

Tahun baru Caka bagi umat Hindu se – Bali merupakan sebuah kesempatan emas untuk bisa memulai kembali sebuah kehidupan baru di tahun baru dengan melakukannya disertai kesucian dan kelapangan hati.

Baca Juga : Pengertian Social Signal

Dimana melalui pengaplikasian terhadap ritual yaitu amati geni pada Hari Raya Nyepi, masing – masing umat Hindu berharap akan memperoleh kesempatan untuk dapat mengevaluasi sebuah capaian hidup yang pernah mereka lakukan selama satu tahun yang lalu untuk selanjutnya menyusun ulang sebuah rencana hidup yang baru di masa – masa mendatang.

Upacara melasti yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali merupakan salah satu sarana yang berfungsi sebagai pembersihan diri dari segala kekotoran pikiran terhadap buana agung (alam semesta), dan semua yang bersifat pratima atau pralingga merupakan benda – benda sakral sthana dari Ida Sang Hyang Widi Wasa, dimulai dari sanggah / mrajan di rumah masing – masing lalu ke pura – pura di lingkungan desa atau banjar adalah mencakup prosesi / rangkaian kegiatan upacara keagamaan dengan tujuan melakukan pembersihan secara niskala.

Pelaksanaan dimulai sejak pagi hari yang dilakukan di pantai (laut), danau dan beberapa sumber mata air yang disucikan di sekitar mereka tinggal. Beberapa pantai yang kerap difungsikan untuk tujuan upacara melasti adalah Pantai Sanur dan Kuta, dimana kedua tempat tersebut merupakan objek wisata yang disepanjang tahun selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan asing, kebetulan sekali prosesi keagamaan seperti ini bisa dikemas apik menjadi objek wisata spiritual yang unik dan ternyata mampu menarik minat wisatawan untuk melihat dan mengabadikan sebagai foto – foto kenangan dengan kamera kesayangan.

Sama halnya dengan Danau Beratan di Bedugul merupakan salah satu tempat suci untuk pelaksanaan upacara agama dan menjadi objek wisata spiritual dimana pemandangan unik seperti berbondong – bonding warga Bali asli ke pura untuk melakukan upacara persembahyangan dengan pakaian adat Bali yang mencolok dan terlihat lebih etnis mampu menarik minat wisatawan untuk menikmatinya ketika kebetulan tour ke Bali bertepatan dengan dimulainya upacara melasti.

Sekilas Tentang Nyepi Dan Upacara Melasti

Ketika hari pelaksanaan ini tiba, suasana di seluruh Pulau Dewata dari daerah pedesaan hingga perkotaan terlihat benar – benar sepi tanpa aktifitas kecuali pelayanan medis di rumah sakit terhadap warga yang kebetulan sedang menderita sakit dan pos – pos penjaga dilanjutkan pada waktu malam hari, suasana sunyi disertai larangan untuk tidak boleh menyalakan lampu / api alias melakukan tapa yoga dengan cara hidup dalam kegelapan dan mencoba melakukan pembersihan diri.

Keesokan harinya pada pinanggal kapertama sasih kedasa merupakan tahun barunya umat Hindu di Bali yang juga disebut dengan nama pengrupukan.

Objek – objek wisata mulai buka meskipun masih sepi dari kunjungan wisatawan lokal dan turis asing, terlihat suasana berbeda dengan udara di sekitar menjadi lebih segar setelah usai melakukan pembersihan selama satu hari satu malam dengan tidak melakukan kegiatan apapun selain tapa yoga.

Kembali kepada penjelasan di awal artikel ini tentang upacara melasti atau melelasti bisa didefinisikan sebagai nganyudang malaning gumi ngamet tirta amerta, yang mengandung makna adalah upacara keagamaan yang dilakukan dengan tujuan menghanyutkan kekotoran alam dengan memanfaatkan air kehidupan.

Di dalam kepercayaan Hindu, sumber air untuk mensucikan hidup bisa diperoleh dari danau atau laut yang dianggap sebagai asal mula tirta amerta atau air kehidupan pertama kali ditemukan.

Sumber – sumber air ini berfungsi besar bagi kemakmuran hidup warga Hindu di Bali karena memberikan kesejahteraan kehidupan bagi seluruh makhluk hidup, manusia, hewan dan tumbuhan sehingga untuk tujuan seperti inilah  upacara melasti pada umumnya diadakan di tempat – tempat khusus seperti tepi pantai atau tepi danau dan sungai – sungai besar.

Pelaksanaan ritual adat ini sebelum dimulai pada umumnya akan ada persiapan khusus dari panitia dari masing – masing rombongan (banjar atau desa) untuk melakukan persiapan seperti menata sebuah meja atau membuat sebuah panggung berukuran besar yang mengarah pada area yang membelakangi laut atau danau.

Meja ini adalah berfungsi sebagai tempat untuk nantinya meletakkan dan menata banten – banten / perangkat suci peribadahan umat Hindu dalam jumlah besar dari pura beserta dengan bermacam – macam sesajian di dalamnya. Seperti diketahui bahwa dalam sebuah upacara adat keagamaan, masyarakat akan berbondong – bondong untuk turut serta di dalamnya yang bisa membedakan menjadi beberapa kelompok dalam melakukan upacara sembahyang menuju ke sumber – sumber air seperti danau, sungai atau laut. Masing – masing kelompok atau rombongan ini berasal dari satu kesatuan wilayah yang sama, seperti dari banjar atau desa yang sama.

Setiap rombongan diwajibkan datang dengan membawa perangkat – perangkat keramat peribadahan, yaitu arca, pratima, dan pralingga juga seperangkap banten / sesajen untuk distanakan pada pura yang ada di wilayah tempat mereka tinggal masing – masing untuk disucikan.

Sesajian dibuat sesuai dengan kemampuan masing – masing yang merupakan bagian dari pelengkap upacara melasti. Seluruh anggota rombongan dipersilahkan untuk duduk bersila bagi kelompok pria / bersimpuh bagi kelompok wanita dengan suasana tertib dan teratur, berpakaian adat Bali, menghadap ke arah jajaran seperangkat ibadah dan sesajian tertata rapid an kadang – kadang berkesan unik di atas sebuah meja besar, sekaligus menghadap ke sumber mata air suci. Pemuka agama (pemangku) setempat selanjutnya akan memimpin jalannya prosesi upacara.

Para pemangku selanjutnya akan berkeliling area persembahyangan sambil memercikkan air suci kepada seluruh anggota masyarakat yang sedang melakukan persembahyangan serta perangkat – perangkat peribadatan dan menebarkan beberapa batang dupa asap wangi sebagai salah satu wujud pensucian.

Selanjutnya, ritual persembahyangan (panca sembah) mulai dilakukan oleh seluruh anggota rombongan yang dipimpin oleh para pemangku, usai prosesi ini, para pemangku akan membagikan air suci dan bija (beras suci yang telah dibasahi dengan tirta / air suci).

Air suci ini berfungsi sebagai air bersih untuk diminum sementara bija adalah nantinya akan dibubuhkan ke dahi dari masing – masing umat yang melakukan upacara keagamaan. Selepas prosesi ini, perangkat – perangkat peribadahan akan diarak kembali ke pura untuk selanjutnya menjalani beberapa tahapan ritual lainnya.

Karena peserta upacara jumlahnya sangat besar, maka untuk menjaga ketertiban pelaksanaan upacara melasti, disediakan barisan pecalang (polisi adat) yang berfungsi untuk mengatur waktu pelaksanaan upacara keagamaan yang berbeda – beda bagi masing – masing daerah (banjar). Diharapkan nantinya masing – masing daerah bisa menerapkan dan melakukan ritual dengan khidmat dan optimal.

Di sisi lain, apabila ketertiban pelaksanaan ritual tahunan ini bisa dijaga oleh masing – masing pelaku, maka akan menjadi sebuah momen yang tak terlupakan dan bisa dibagikan kepada para wisatawan yang kebetulan sedang berkesempatan untuk menyaksikannya di Bali.

Terutama pada hari kedua hingga keempat sebelum Nyepi, di seluruh Bali akan tampak rombongan masyarakat dengan mengenakan pakaian sembahyang yang berkunjung silih berganti ke tepi pantai atau danau guna melakukan persembayangan bersama.

Juga menjelang perayaan Hari Raya Nyepi ini, selain anda bisa melihat prosesi upacara melasti, luangkan waktu untuk dapat menyaksikan prosesi lainnya yaitu pawai ogoh – ogoh yang merupakan lambing / simbol dari Sang Buta Kala sebagai penjaga bumi, yang pada hari – hari tertentu suka keluar dari goa – goa di tempat – tempat yang angker untuk menggoda manusia ke arah jalan yang salah, dimana pelaksanaannya adalah pada waktu sore hari, sehari sebelum upacara Nyepi.

Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan tour dengan sewa mobil di Bali bertepatan dengan menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, maka anda akan beruntung sekali bertemu dengan rombongan warga Bali yang sedang mengikuti prosesi upacara melasti, jalanan dimana – mana di sepanjang jalan raya utama di Bali akan sedikit tertunda, diharapkan anda menjadi lebih bersabar, dilarang membunyikan klakson berlebihan, dimana akan ada aparat kepolisian, aparat polisi tradisional yang dinamakan pecalang membantu melancarkan arus lalu lintas beserta aktifitas di dalamnya.

Baca Juga :

Ciri – ciri prosesi ini sangat jelas, rombongan mengusung pratima disertai dengan sesajen, payung, umbul – umbul, lambing senjata Dewata Nawa Sanga, iringan musik tradisional jenis bleganjur, dan mengenakan pakaian adat berwarna putih dan kuning.

Aparat keamanan banyak sekali membantu terjaganya ketertiban terhadap pelaksanaan ritual tahunan ini sehingga akan menjadi momen yang tak terlupakan bagi para wisatawan lokal dan asing yang berkesempatan untuk menyaksikannya.

About the Author: admin

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!